Indonesia sejak lama dikenal telah memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan di usia anak-anak, istilah tersebut sudah diperkenalkan dalam pendidikan Sekolah Dasar. Sehingga anak-anak akan terus mengingatnya dan menjadikannya sebagai pedoman dalam hidupnya yang berkewarganegaraan Indonesia. tentunya ketika anak-anak sudah tumbuh besar hal itu akan masih tertanam dalam jiwanya. anak-anak di sekolah dasar juga diajarkan sila-sila dalam pancasila. Bahkan sejak kecil guru SD telah menyuruh untuk menghafalkannya. Namun mengapa masih banyak kasus yang didasari karena perbedaan-perbedaan paham dan ideologi? Apakah itu berarti mereka tidak lagi memiliki semboyan dan ideologi yang sama? mengapa hal itu dapat terjadi di Indonesia? apakah sesungguhnya mereka tidak tahu apa arti Bhinneka Tunggal Ika dan apa maksud pancasila?
Dilansir dari m.detik.com pada tanggal 18 januari 2016, pukul 11:38 WIB dijelaskan cara organisasi Negara Islam Indonesia merekrut orang-orang untuk dapat masuk ke dalam organisasinya. Dalam masa perekrutan awal, yang ada adalah tafsir mengenai kenegaraan yang membenarkan adanya organisasi seperti NII. Tidak ada pula doktrin-doktrin yang menjelaskan tentang larangan sholat, berpuasa, dan zakat. Untuk doktrin rukun islam tersebut akan diajarkan lebih lanjut pada tingkatannya. Ternyata NII adalah sebuah organiasi yang mewadahi orang-orang yang awalnya berideologi pancasila namun ingin berpindah ke ideologi islam. Tentunya hal ini sangat miris bukan? Bagaimana bisa sebuah ideologi negara digantikan dengan ideologi golongan lain yang tidak jelas asalnya. Dalam lingkungan kampus pun banyak organisasi-organisasi yang berkembang dan berusaha merekrut mahasiswa-mahasiswa lainnya yang rendah dengan pemahaman agama dan kewarganegaraan. Bila tidak cerdas dalam memilih, maka bisa saja organisasi tersebut adalah hanya kedok untuk perekrutan organisasi yang ingin mengubah ideologi negara dengan ideologi yang lainnya.
Indonesia memiliki sebuah semboyan Bhinneka Tunggal ika yaitu berbeda-beda, tapi tetap satu. Beragam suku dan budaya, bahasa daerah, kepercayaan, beragam agama, ras dan golongan yang tersebar di seluruh bagian wilayah Nusantara. Namun mereka hakikatnya adalah satu kesatuan. Semboyan ini adalah gambaran persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. sedangkan pancasila adalah sebuah ideologi dasar bagi negara Indonesia . pancasila merupakan sebuah rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila ada lima. Yaitu ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal-hal tersebut merupakan salah satu 4 pilar kebangsaan yang harus tertanam dalam setiap warga negara Indonesia.
Namun yang terjadi tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkan. Masih banyak gerakan radikal yang ingin merubah ideologi NKRI menjadi ideologi yang lain yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri. ada pula ujaran-ujaran kebencian yang menyudutkan golongan yang satu dengan golongan yang lainnya. Atau juga membuat berita-berita yang salah tentang kebijakan pemerintah dan reaksi yang palsu dari masyarakat. Isu radikalisme diciptakan dan dipelihara oleh pihak tertentu seperti rencana yang telah dibuatnya yang berasal dari desain besar untuk meraih dan mengamankan kepentingan pihak tertentu. Radikalisme sendiri merupakan sebuah gerakan yang berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka. gerakan radikal berkedok gerakan islam dengan kata jihad atau membela agama. Namun pembelaan yang mereka lakukan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan agamanya. Di dalam agama pastilah diajarkan sebuah kedamaian dan bukan beribadah dengan kekerasan.
Beberapa kasus seperti itu muncul karena hukum pemerintah yang lemah. Hukum-hukum yang mengatur tentang organisasi-organisasi yang tercipta dan berkembang di masyarakat memang sudah diatur dalam undang-undang. Namun peraturan dan sanksi yang benar-benar tegas dirasa masih kurang. Selain itu rendahnya pendidikan yang dimiliki Indonesia kebanyakan membuat beberapa orang memiliki pemahaman yang rendah mengenai agama dan kewarganegaraannya. Alasan yang lain pula seperti rendahnya komunikasi antar umat beragama membuat beberapa pihak terkadang menjadi salah paham dan menjadi permasalahan besar yang berkepanjangan. Kasus seperti percobaan mengubah ideologi tersebut juga dapat terjadi karena masyarakat yang mengalami ketidakpuasan pada pemerintah, misalnya pada sebuah kebijakan pemerintah yang ada. Ada juga karena kesenjangan ekonomi yang membuat orang menjadi mudah menyerah dan lebih memilih untuk bergabung bersama ideologi lain. Kemudian pancasila juga sudah terkikis oleh kemajuan zaman dan globalisasi. Saat ini, paham dan budaya Eropa mudah diakses indonesia sehingga warganya dengan mudah melalaikan sila-sila dalam pancasila dan tidak maksimal dalam mengimplementasikan sila-sila tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Paham dan budaya yang dimaksud di sini adalah kemajuan-kemajuan yang lebih mengarah pada perilaku-perilaku yang negatif. ada pula kasus seperti umat yang tertindas umat lainnya. Kemudian karena adanya solidaritas keagamaan yang tertindas kawan tertentu tersebut, maka terjadilah kericuhan yang membuat golongan yang satu bermusuhan dengan golongan lainnya.
Dalam hal ini, mahasiswa harusnya ikut berperan dalam menghadapi dan menanggulangi permasalahan tersebut. Sesuai dengan jabatan yang dimilikinya, sebagai mahasiswa haruslah dibekali dengan pemahaman yang cukup tentang agama dan kewarganegaraannya. Karena mahasiswa merupakan benih yang akan dijadikan sebagai penerus bangsa dan merupakan tolok ukur kemajuan sebuah negara jika dilihat dari kualitasnya. Selain itu mahasiswa adalah kaum intelektual cerdas yang lebih dipercaya oleh masyarakat dibandingkan pemerintahan sendiri karena mereka merupakan agen perubahan dan pelaku dalam masyarakat. Mereka adalah social control yang sudah seharusnya memberontak ketika terdapat keburukan-keburukan dalam birokrasi yang selama ini dianggap benar. Mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang menerima keberagaman dan perbedaan keyakinan, suku bangsa, dan budaya sebagai anugerah dan identitas bangsa Indonesia. selain itu mahasiswa berperan sebagai perekat dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa. Hendaknya sebagai mahasiswa dapat mengembangkan diri agar mampu berkompetisi dan memiliki daya saing. Mereka sebagai iron stock diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki akhlak yang mulia. Juga memiliki keseimbangan dalam intelektual, kepribadian, dan ketaatan terhadap Tuhan yang Maha Kuasa. Mahasiswa haruslah memanfaatkan ilmu yang dimilikinya serta pengetahuan yang diperolehnya melalui karya nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Untuk menjadikan mahasiswa tidak mudah terjerumus dalam organisasi dan paham yang semacam itu, hendaknya mahasiswa disibukkan dengan kegiatan organisasi baik intra maupun ekstra dalam lingkung kampusnya. Misalnya dengan adanya kegiatan kompetisi robot, debat, karya tulis ilmiah, dsb. Agar mahasiswa berbaur dengan mahasiswa yang lainnya tidak hanya satu jurusan saja. Peminimalisan organisasi dan gerakan radikal dapat dilakukan dengan pengambilan keterangan dari seluruh mahasiswa yang ada. Selain itu pancasila hendaknya diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah, di kampus, atau di lingkungan masyarakat. Organisasi yang diikuti hendaknya memberikan sebuah pemahaman yang komprehensif mengenai kewarganegaraan atau keagamaannya. Karena pancasila tidak untuk menggantikan agama, kedudukan agama tidak untuk kedudukan pancasila. Begitu pula sebaliknya. Ormas islam mahasiswa yang benar adalah yang menolak segala jenis radikal fundamental baik terhadap agama ataupun negara. Sehingga organisasi yang mengubah ideologi negara sangat tidak dibenarkan. Mahasiswa hendaknya dapat menangkal gerakan radikal tersebut.
Menangkal gerakan radikal, ujaran kebencian, dan sikap anti pancasila dapat dilakukan dalam bela negara. Bela negara adalah sebuah sikap atau tindakan yang didasari oleh kecintaan terhadap tanah air, kesadaran hidup berbangsa dan bernegara untuk keutuhan NKRI. Bela negara dapat dilakukan dengan melalui pendidikan bela negara. Kemudian dengan menumbuhkan sikap peka terhadap hal-hal di lingkungan sekitarnya misalnya terhadap permasalahan sosial yang ada.Mahasiswa perlu banyak pembekalan karena mereka adalah benih-benih penerus bangsa. Sehingga haruslah cerdas secara akademik, serta cinta dengan ideologi negaranya. Mahasiswa dapat melakukan bela negara dengan mengikuti organisasi yang memberikan banyak manfaat dan pengetahuan. Misalnya organisasi yang memberikan pelatihan dan pemahaman serta pengetahuan tentang bernegara dan berbangsa sesuai dengan perannya sebagai mahasiswa. Contohnya dengan mengikuti organisasi himpunan mahasiswa jurusan, badan eksekutif mahasiswa, dewan perwakilan mahasiswa, resimen mahasiswa, , dan masih banyak lagi yang lainnya baik organisasi dalam kampus atau di luar kampus. Di dalamnya mahasiswa akan dipersiapkan secara benar untuk dapat mempertahankan NKRI sesuai dengan potensi organisasi masing-masing yang dimilikinya dan dengan cara mereka sendiri.
Mahasiswa dalam organisasi juga dapat memberikan peranannya untuk mempertahankan masyarakat agar tidak mudah terbujuk oleh gerakan radikal. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan stimulus kepada publik berupa dukungan, dengan adanya lembaga kajian pancasila mahasiswa, deklarasi, talkshow, silaturahmi nasional, penyelenggaraan forum bertukar pemahaman, dan acara-acara yang lainnya. Kegiatan ini bisa dilakukan lewat organisasi yang ada di masyarakat misalnya karang taruna, remaja masjid, dan masih banyak lagi. Di dalamnya diberikan pemahaman dan pengetahuan tentang agama dan kewarganegaraan melalui tokoh- tokoh masyarakat seperti pemimpin dalam sebuah organisasi, desa, atau tokoh agama yang diberi wawasan tentang radikal fundamental di negara ini. Tokoh agama dalam lingkungan masyarakat tersebut pun dighrapkan dapat memberikan pengetahuan tentang ajaran agama yang sesungguhnya adalah yang damai. Kemudian juga tokoh masyarakat dan tokoh agama tersebut dapat mematahkan doktrin-doktrin yang keliru dan berkembang di masyarakat khususnya yang radikal fundamental. Juga hal lain yang terpenting adalah pluralisme. Pluralisme bukan hanya untuk mahasiswa, tapi untuk seluruh elemen masyarakat. Pluralisme adalah sebuah modal besar untuk menyingkirkan gerakan-gerakan radikal yang berkembang dalam bangsa ini. Dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat baik rakyat menengah ke bawah, menengah ke atas, tokoh masyarakat, tokoh agama, tni, polri, badan penanggulangan terorisme, dan elemen lainnya yang ada, maka hal-hal negatif seperti kasus-kasus di atas dapat diminimalisasi.
Ketika mahasiswa mengikuti organisasi, kegiatan, atau ekstra dan menyibukkan diri sesuai dengan perannya sebagai mahasiswa atau pelajar maka secara tidak langsung seseorang itu juga telah melakukan bela negara karena melakukan apa yang sudah seharusnya menjadi kewajibannya. Bela negara tidak harus dengan mengangkat senjata terhadap negara penjajah. Namun dapat dilakukan dengan melaksanakan kewajiban dan menerima haknya sesuai peran dan jabatan atau profesi yang dimilikinya. Menjadi warga negara yang baik yang terus senantiasa melatih kualitas diri yang dimulai dari setiap orang di dalam dirinya secara tidak langsung pula akan memperbaiki kualitas negara. Karena kemajuan negara dilihat dari warganya. Terutama kualitas pelajar yang dimilikinya. Sehingga sangat penting bila terus memajukan kualitas mahasiswa baik di bidang akademik dan non akademiknya.
Biodata Penulis
Nama saya Norma Sarah Pujasari. Saya dapat berteman dengan siapapun. Silakan ikuti saya di akun Twitter @normasarah24 dan tambahkan saya sebagai teman di akun Facebook Norma Sarah. Nomor telpon saya 085706730631.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar